Minggu, 24 Januari 2016

BINGKAI HITAM

Begitu sakit memang ketika kita mengharapkan seseorang, tapi kita belum tau siapa orang yang benar-bener diharapkan. Harapan itu sebenarnya ada, tapi ketika kita menumpahkannya kepada orang yang salah, dan harapan itu akan terlihat ketika harapan itu sangat kecewa dan pergi karena kita telah lama tak sadar harapan ini untuk siapa.
Disaat semua telah kembali ketitik kesadaran, bukannya harapan yang sebenarnya telah pergi jauh melangkah karena berbagai alasan, bagaimana perasaanmu.?, hah bertambah sakit bukan ?, dan kemudia kita mengharapkan semuanya kembali seperti kemarin, seperti disaat dia bersamamu tapi kau kecewakan dia…!!! Hah.. (hal yang ku rasakan sekarang)
Hahaha..tapi  tak semudah itu, buat dia yang mungkin tak ingin melihatku lagi.
Apa yang ku rasakan.? menyesal, kecewa, sakit, bahka kesakitan yang tak terlihat, tapi sangat-sangat terasa dengan jelas bagaimana rasanya. yakin saja, hanya itu yang bisa ku rasakan, kesalahan terbesar bukan.
Dan ketika kesadaran datang, aku hanya bisa membuatnya berada paling depan dalam penglihatanku, tapi sayangnya dia sudah tak ingin melihatku lagi.
Mencoba menghubungi dan membuka komunikasi, mungkin hanya akan terbaca dan kemudia berakhir dengan BLOCK dari semua sosmed-sosmednya.
Ketika semuanya telah sangat-sangat berubah, ku sadar akan langkah yang pernah dilewati sama-sama, begitu jauh dan begitu dalam dengan kenangan yang ada. Tidak ada lagi yang bisa ku ocehkan dengan nya, tidak ada lagi diskusi tidak ada marah dengannya, tidak ada rayuan manis nya, tidak ada tatapan bingkai hitamnya, tidak ada peluk hangatnya, tidak ada lagi tetesan keluh kesahnya dan semuanya telah tiada, hal yang membuatmu kesal, tapi sekarang membuatku menyesal, bahkan tetesan sesalku tidak dapat lagi membuatnya kembali pada waktu itu.
Yang terlihat sekarang hanya foto kenangan dengan bingkai hitamnya, gelang yang pernah ku berikan padanya, coretan manis dibuku kuliahku, dan coretan indah sekaligus harapannya pada kaca jendela kamarku dulu. Yang selalu membuat sesal sekaligus membuat harapan semoga waktu itu kembali lagi…(haha sayang sekali cuman fatamorgana).
Baru tersadar untuk siapa lagu-lagu yang kudengarkan dari dulu, dan untuk siapa seharusnya coretan-coretan ku persembahkan. bukannya aku pernah bangga dapat Dia, dan seperti apa aku kenalkan dia dengan kakakku. Bukannya sudah pernah aku menggenggam tangannya dan meminta agar dia tak pergi bahkan bukannya sambil kuteteskan rasa ketakutan ini, sampai kau lihat aku memohon.?. dan bukannya sudah ku rasakan ketika orang Tuamu tidak suka denganku dan aku memintamu untuk tetap dan kita berjuang bareng..?
Sudah kurasakan sebenarnya kesakitannnya seperti apa, cuman ahhhhh,..FVCKlah…
Ingat sebuah perjanjian dulu, sebelum kita jalan yang entah kemana tujuannya, bangga dan bahagia,…
“saya dimas galuh berjanji : akan ngejaga dan gak nyakitin dian”
Betapa bangsat kan jika semuanya terasakan seperti apa, dan berakhir dengan seperti apa..?
Dengan bodoh dan gemetarnya badanku sekarang, cuman bisa menulis ini, tanpa berani menghampiri ketika aku ngeliat dia lewat.
Pengen rasanya nuangin semuanya tanpa ada satu yang terlewatkan, pengen rasanya aku kenalan kembali dengannya, pengen rasanya dia ngerti sekarang dan seperti awal kita ketemu dan pengen rasanya aku berjuang lagi dengannya.
“seseorang yang telah pergi kemudian datang lagi, rasanya akan berbeda, tidak akan senyaman dulu”
Itu yang pernah terucap darimu bukan,? Tapi tidak semudah itu ketika kesadaranku datang…
“izinkan aku kembali”
Berucaplah padaku, tak ingin lagi aku nyari hal-hal yang semuanya hanya cermin.
Aku akuin itu kesalahanku, kecerobohan yang semudah itu ngeiyain kamu buat pergi.
Segampang itu ya begokku keluar, bahkan aku gak sempat ngeliat apa yang pernah kutakutin pada saat itu.
Kalo boleh minta, “yang aku mau, kenangan yang ada tolong kembali”
Dan jika boleh aku milih dengan siapa aku hidup, “yang ku mau, akan ku bawa masa lalu untuk masa depanku”
Tolong balik ya non, ternyata sakit jika harus mulai semuanya dengan orang-orang baru, cukup bangga aku pernah sama kamu, cukup senang aku pernah kau terima masuk kedalam hidupmu, dan cukup denganu aku pengen mulai semuanya lagi.
Tolong berulanglah..tolong… dan tolong bikin aku selalu sadar, kalo buat siapa yang seharusnya coretan-coretanku ini.

Mau ya berjuang bareng aku lagi, aku sadar sekarang sakitnya seperti apa. Cukup sekali lagi kau kasih aku kesempatan, tolooong non DIAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 24 Januari 2016

BINGKAI HITAM

Begitu sakit memang ketika kita mengharapkan seseorang, tapi kita belum tau siapa orang yang benar-bener diharapkan. Harapan itu sebenarnya ada, tapi ketika kita menumpahkannya kepada orang yang salah, dan harapan itu akan terlihat ketika harapan itu sangat kecewa dan pergi karena kita telah lama tak sadar harapan ini untuk siapa.
Disaat semua telah kembali ketitik kesadaran, bukannya harapan yang sebenarnya telah pergi jauh melangkah karena berbagai alasan, bagaimana perasaanmu.?, hah bertambah sakit bukan ?, dan kemudia kita mengharapkan semuanya kembali seperti kemarin, seperti disaat dia bersamamu tapi kau kecewakan dia…!!! Hah.. (hal yang ku rasakan sekarang)
Hahaha..tapi  tak semudah itu, buat dia yang mungkin tak ingin melihatku lagi.
Apa yang ku rasakan.? menyesal, kecewa, sakit, bahka kesakitan yang tak terlihat, tapi sangat-sangat terasa dengan jelas bagaimana rasanya. yakin saja, hanya itu yang bisa ku rasakan, kesalahan terbesar bukan.
Dan ketika kesadaran datang, aku hanya bisa membuatnya berada paling depan dalam penglihatanku, tapi sayangnya dia sudah tak ingin melihatku lagi.
Mencoba menghubungi dan membuka komunikasi, mungkin hanya akan terbaca dan kemudia berakhir dengan BLOCK dari semua sosmed-sosmednya.
Ketika semuanya telah sangat-sangat berubah, ku sadar akan langkah yang pernah dilewati sama-sama, begitu jauh dan begitu dalam dengan kenangan yang ada. Tidak ada lagi yang bisa ku ocehkan dengan nya, tidak ada lagi diskusi tidak ada marah dengannya, tidak ada rayuan manis nya, tidak ada tatapan bingkai hitamnya, tidak ada peluk hangatnya, tidak ada lagi tetesan keluh kesahnya dan semuanya telah tiada, hal yang membuatmu kesal, tapi sekarang membuatku menyesal, bahkan tetesan sesalku tidak dapat lagi membuatnya kembali pada waktu itu.
Yang terlihat sekarang hanya foto kenangan dengan bingkai hitamnya, gelang yang pernah ku berikan padanya, coretan manis dibuku kuliahku, dan coretan indah sekaligus harapannya pada kaca jendela kamarku dulu. Yang selalu membuat sesal sekaligus membuat harapan semoga waktu itu kembali lagi…(haha sayang sekali cuman fatamorgana).
Baru tersadar untuk siapa lagu-lagu yang kudengarkan dari dulu, dan untuk siapa seharusnya coretan-coretan ku persembahkan. bukannya aku pernah bangga dapat Dia, dan seperti apa aku kenalkan dia dengan kakakku. Bukannya sudah pernah aku menggenggam tangannya dan meminta agar dia tak pergi bahkan bukannya sambil kuteteskan rasa ketakutan ini, sampai kau lihat aku memohon.?. dan bukannya sudah ku rasakan ketika orang Tuamu tidak suka denganku dan aku memintamu untuk tetap dan kita berjuang bareng..?
Sudah kurasakan sebenarnya kesakitannnya seperti apa, cuman ahhhhh,..FVCKlah…
Ingat sebuah perjanjian dulu, sebelum kita jalan yang entah kemana tujuannya, bangga dan bahagia,…
“saya dimas galuh berjanji : akan ngejaga dan gak nyakitin dian”
Betapa bangsat kan jika semuanya terasakan seperti apa, dan berakhir dengan seperti apa..?
Dengan bodoh dan gemetarnya badanku sekarang, cuman bisa menulis ini, tanpa berani menghampiri ketika aku ngeliat dia lewat.
Pengen rasanya nuangin semuanya tanpa ada satu yang terlewatkan, pengen rasanya aku kenalan kembali dengannya, pengen rasanya dia ngerti sekarang dan seperti awal kita ketemu dan pengen rasanya aku berjuang lagi dengannya.
“seseorang yang telah pergi kemudian datang lagi, rasanya akan berbeda, tidak akan senyaman dulu”
Itu yang pernah terucap darimu bukan,? Tapi tidak semudah itu ketika kesadaranku datang…
“izinkan aku kembali”
Berucaplah padaku, tak ingin lagi aku nyari hal-hal yang semuanya hanya cermin.
Aku akuin itu kesalahanku, kecerobohan yang semudah itu ngeiyain kamu buat pergi.
Segampang itu ya begokku keluar, bahkan aku gak sempat ngeliat apa yang pernah kutakutin pada saat itu.
Kalo boleh minta, “yang aku mau, kenangan yang ada tolong kembali”
Dan jika boleh aku milih dengan siapa aku hidup, “yang ku mau, akan ku bawa masa lalu untuk masa depanku”
Tolong balik ya non, ternyata sakit jika harus mulai semuanya dengan orang-orang baru, cukup bangga aku pernah sama kamu, cukup senang aku pernah kau terima masuk kedalam hidupmu, dan cukup denganu aku pengen mulai semuanya lagi.
Tolong berulanglah..tolong… dan tolong bikin aku selalu sadar, kalo buat siapa yang seharusnya coretan-coretanku ini.

Mau ya berjuang bareng aku lagi, aku sadar sekarang sakitnya seperti apa. Cukup sekali lagi kau kasih aku kesempatan, tolooong non DIAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar