BINGKAI
HITAM
Begitu sakit memang ketika kita mengharapkan
seseorang, tapi kita belum tau siapa orang yang benar-bener diharapkan. Harapan
itu sebenarnya ada, tapi ketika kita menumpahkannya kepada orang yang salah,
dan harapan itu akan terlihat ketika harapan itu sangat kecewa dan pergi karena
kita telah lama tak sadar harapan ini untuk siapa.
Disaat semua telah kembali ketitik kesadaran,
bukannya harapan yang sebenarnya telah pergi jauh melangkah karena berbagai
alasan, bagaimana perasaanmu.?, hah bertambah sakit bukan ?, dan kemudia kita
mengharapkan semuanya kembali seperti kemarin, seperti disaat dia bersamamu
tapi kau kecewakan dia…!!! Hah.. (hal yang ku rasakan sekarang)
Hahaha..tapi tak semudah itu, buat dia yang mungkin tak
ingin melihatku lagi.
Apa yang ku rasakan.? menyesal, kecewa, sakit,
bahka kesakitan yang tak terlihat, tapi sangat-sangat terasa dengan jelas
bagaimana rasanya. yakin saja, hanya itu yang bisa ku rasakan, kesalahan
terbesar bukan.
Dan ketika kesadaran datang, aku hanya bisa membuatnya
berada paling depan dalam penglihatanku, tapi sayangnya dia sudah tak ingin
melihatku lagi.
Mencoba menghubungi dan membuka komunikasi,
mungkin hanya akan terbaca dan kemudia berakhir dengan BLOCK dari semua
sosmed-sosmednya.
Ketika semuanya telah sangat-sangat berubah, ku
sadar akan langkah yang pernah dilewati sama-sama, begitu jauh dan begitu dalam
dengan kenangan yang ada. Tidak ada lagi yang bisa ku ocehkan dengan nya, tidak
ada lagi diskusi tidak ada marah dengannya, tidak ada rayuan manis nya, tidak
ada tatapan bingkai hitamnya, tidak ada peluk hangatnya, tidak ada lagi tetesan
keluh kesahnya dan semuanya telah tiada, hal yang membuatmu kesal, tapi
sekarang membuatku menyesal, bahkan tetesan sesalku tidak dapat lagi membuatnya
kembali pada waktu itu.
Yang terlihat sekarang hanya foto kenangan
dengan bingkai hitamnya, gelang yang pernah ku berikan padanya, coretan manis
dibuku kuliahku, dan coretan indah sekaligus harapannya pada kaca jendela
kamarku dulu. Yang selalu membuat sesal sekaligus membuat harapan semoga waktu
itu kembali lagi…(haha sayang sekali cuman fatamorgana).
Baru tersadar untuk siapa lagu-lagu yang
kudengarkan dari dulu, dan untuk siapa seharusnya coretan-coretan ku
persembahkan. bukannya aku pernah bangga dapat Dia, dan seperti apa aku
kenalkan dia dengan kakakku. Bukannya sudah pernah aku menggenggam tangannya
dan meminta agar dia tak pergi bahkan bukannya sambil kuteteskan rasa ketakutan
ini, sampai kau lihat aku memohon.?. dan bukannya sudah ku rasakan ketika orang
Tuamu tidak suka denganku dan aku memintamu untuk tetap dan kita berjuang
bareng..?
Sudah kurasakan sebenarnya kesakitannnya
seperti apa, cuman ahhhhh,..FVCKlah…
Ingat sebuah perjanjian dulu, sebelum kita
jalan yang entah kemana tujuannya, bangga dan bahagia,…
“saya dimas galuh berjanji : akan ngejaga dan
gak nyakitin dian”
Betapa bangsat kan jika semuanya terasakan
seperti apa, dan berakhir dengan seperti apa..?
Dengan bodoh dan gemetarnya badanku sekarang,
cuman bisa menulis ini, tanpa berani menghampiri ketika aku ngeliat dia lewat.
Pengen rasanya nuangin semuanya tanpa ada satu
yang terlewatkan, pengen rasanya aku kenalan kembali dengannya, pengen rasanya
dia ngerti sekarang dan seperti awal kita ketemu dan pengen rasanya aku
berjuang lagi dengannya.
“seseorang yang telah pergi kemudian datang
lagi, rasanya akan berbeda, tidak akan senyaman dulu”
Itu yang pernah terucap darimu bukan,? Tapi
tidak semudah itu ketika kesadaranku datang…
“izinkan aku kembali”
Berucaplah padaku, tak ingin lagi aku nyari
hal-hal yang semuanya hanya cermin.
Aku akuin itu kesalahanku, kecerobohan yang
semudah itu ngeiyain kamu buat pergi.
Segampang itu ya begokku keluar, bahkan aku gak
sempat ngeliat apa yang pernah kutakutin pada saat itu.
Kalo boleh minta, “yang aku mau, kenangan yang
ada tolong kembali”
Dan jika boleh aku milih dengan siapa aku
hidup, “yang ku mau, akan ku bawa masa lalu untuk masa depanku”
Tolong balik ya non, ternyata sakit jika harus
mulai semuanya dengan orang-orang baru, cukup bangga aku pernah sama kamu,
cukup senang aku pernah kau terima masuk kedalam hidupmu, dan cukup denganu aku
pengen mulai semuanya lagi.
Tolong berulanglah..tolong… dan tolong bikin
aku selalu sadar, kalo buat siapa yang seharusnya coretan-coretanku ini.
Mau ya berjuang bareng aku lagi, aku sadar
sekarang sakitnya seperti apa. Cukup sekali lagi kau kasih aku kesempatan,
tolooong non DIAN.
